Teori Etika

Teori etika akan membahas beberapa pandangan tentang etika yang pernah berkembang dan berpengaruh terus hingga sekarang.

1. Sistem Filsafat Moral.
1.1. Deontologi artinya kewajiban (duty).
Menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Suatu tindakan dinilai baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan  baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya sendiri.

Etika deontologi menekankan pentingnya motivasi, kemauan baik dan watak yang kuat dari pelaku, terlepas dari akibat yang tibmul dari perilaku pelaku tersebut.
Tokoh:Immanuel  Kant --- menekankan :
pertama, tidak ada  hal di dunia ini yang dapat dianggap baik tanpa kualifikasi kecuali kemauan baik. Suatu tindakan dinilai baik apabila didasarkan pada motivasi yang baik.
Kedua, tindakan yang baik adalah tindakan yang sesuai dengan kewajiban dan dijalankan demi kewajiban.
Prinsip yang dirumuskan  antara lain ; a) supaya  suatu tindakan punya nilai moral, tindakan itu harus dijalankan berdasar kewajiban; b) nilai moral suatu tindakan tidak tergantung pada tercapainya tujuan dari tindakan itu melainkan tergantung pada kemauan baik yang mendorong orang melakukan tindakan tersebut
Selain itu Kant mengajukan dua perintah yang sangat popular dalam etika:
a) perintah bersyarat (imperative hipotesis) adalah perintah yang dilakukan bila orang menghendaki akibatnya;
b) perintah tidak bersyarat (imperative kategoris) adalah perintah yang dilaksanakan begitu saja tanpa mengharapkan/mempedulikan  akibatnya (tercapai atau tidak) --- semua perintsh dan norma moral adalah perintah tak bersyarat.

1.2. Teleologi : mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang akan dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan dari tindakan tersebut--- suatu tindakan dinilai baik apabila   akibat yang ditimbulkan dari tindakan itu baik.
Dua aliran teleologis
a. Egoism : tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya.
b. Utilitarianisme: menilai baik atau buruknya suatu tindakan didasarkan tujuan dan akibat dari tindakan itu bagi sebanyak mungkin orang ---disebut universalisme etis.

1.3. Relativisme Etis :
Pada kenyataannya norma-norma moral yang berlaku dalam berbagai kebudayaan dan masyarakat tidak sama atau berbeda satu sama lain – relativisme cultural atau relativisme deskriptif – mengatakan bahwa semau kepercayaan dan prinsip moral bersifat relative bagi setiap kebudayaan dan pribadi --- baik buruknya  suatu tindakan berbeda antara satu tempat dengan lain tempat, dan tidak ada tolok ukur moral ayng bersifat absolute dan universal. Baik buruknya suatu tindakan tergantung pada keyakinan pribadi dan budaya.
2. Kegunaan Teori Etika
a) Memahami dilemma moral
b) Meneguhkan kewjiban dan ideal profesi
c) Menghubungkan moralitas umum dan moralitas profesi

3. Faktor Pengaruh Perilaku Etis
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ideologi moral dan etika:
a. Diri sendiri : etika dan moralitas secara definisi datang dari dalam, tidak pernah dipaksakan dari luar
b. Keluarga : mengembangkan etika kepedulian, saling melindungi dan mengamankan.—komitmen  dari anggota keluarga untuk saling menjaga keluarga secara bersama
c. Masyarakat :  manusia merupakan makhluk sosial --- masyarakat dimana ia tinggal berpengaruh kuat  pada perilakunya --- ada keinginan untuk diterima oleh masyarakat --- ada pembelajaran etika.
d. Kebudayaan : kebudayaan respek pada kebajikan seperti toleransi, belas kasih, kejujuran dan respek pada manusia
e. Agama :

0 komentar