Komunikasi adalah sesuatu yang sangat penting dan vital dalam suatu
organisasi. Proses pencapaian tujuan dalam suatu organisasi akan sangat
ditentukan oleh seberapa efektif komunikasi yang terjadi dalam
organisasi tersebut. Semua jenjang dan semua level dalam organisasi
membutuhkan komunikasi yang efektif. Kesalahpahaman dalam
menterejemahkan perintah pimpinan dalam suatu organisasi bisa
mengakibatkan kegagalan dalam pencapaian tujuan suatu organisasi. Selain
itu proses komunikasi bisa menjelaskan pembagian tugas, pelaksanaan
pekerjaan, penyaluran umpan balik ada tidak adanya hambatan yang ditemui
dalam pelaksanaan pekerjaan. Melalui komunikasi dapat dilakukan
pengendalian atau pengawasan, pembinaan motivasi, pengungkapan emosional
dan penyampaian informasi.
Arus komunikasi dalam organisasi bisa dialirkan dalam berbagai unit dan bagian, dalam bentuk komunikasi vertikal (ke bawah atau ke atas), horisontal atau lateral dan diagonal. Namun demikian banyak sekali hambatan yang dapat ditemui dalam komunikasi keorganisasian, seperti ; latar belakang, mendengarkan secara selektif, kepercayaan terhadap sumber, pertimbangan nilai, masalah bahasa, penyaringan, jargon, perbedaan status,beban komunikasi yang berat, tekanan waktu dan hambatan dalam memahami komunikasi NonVerbal.
Setiap manajer akan selalu berusaha untuk membangun komunikasi yang efektif, Dalam banyak penelitian, ditemukan delapan faktor yang berkaitan dengan efektivitas komunikasi, yaitu ; pimpinan puncak menyadari pentingnya komunikasi, satunya kata dengan perbuatan, komitmen kepada komunikasi dua arah, menekankan pada komunikasi dua arah, adanya tanggung jawab bersama terhadap komunikasi, menangani kabar buruk, pesan untuk penerima yang dimaksud dan komunikasi sebagai proses yang berkelanjutan.
Dalam setiap organisasi, para manajer harus membangun atau menciptakan iklim komunikasi yang kondusif. Di dalam organisasi ada 5 dimensi penting iklim komunikasi, yaitu ; “supportiveness, participative decision making, trust, confidence, credibility, openess and candor dan high performance goals”. Di dalam kenyataannya, sebenarnya sangat susah untuk membangun komunikasi yang efektif, meskipun kondisi lingkungan internal dan eksternal baik, banyak faktor yang harus diperhatikan antara lain faktor budaya yang berbeda-beda yang bisa menimbulkan masalah atau konflik interpersonal dalam organisasi.
Pengambilan Keputusan;
Hampir dalam setiap aktivitas keseharian, kita selalu diperhadapkan kepada pengambilan keputusan, baik dalam lingkup keluarga, kehidupan bermasyarakat maupun dalam lingkup kehidupan organisasi di mana kita bekerja dan beraktivitas sehari-hari. Pengambilan keputusan didefinisikan sebagai pemilihan dua alternatif atau lebih. Pengambilan keputusan adalah sebuah proses yang dimulai dengan penentuan tujuan, mengidentifikasi masalah, mengembangkan alternatif, mengevaluasi alterrnatif-alternatif, memilih alternatif, melaksanakan keputusan dan melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap keputusan yang sudah diambil. Mintzberg sebagaimana dikemukakan oleh Luthans (2006), tahap-tahap dalam pengambilan keputusan sebagai berikut :
1. Tahap identifikasi, yang terkait dengan pengenalan terhadap masalah dan diagnosis
2. Tahap desain, yang terkait dengan pencarian prosedur atau solusi standar yang ada atau mendesain solusi yang baru.
3. Tahap seleksi, yang terkait dengan penilaian pembuat keputusan berdasarkan pengalaman atau intiusi, analisis alternatif yang logis dan sistematis, dan tawar menawar saat seleksi melibatkan kelompok pembuat keputusan.
Arus komunikasi dalam organisasi bisa dialirkan dalam berbagai unit dan bagian, dalam bentuk komunikasi vertikal (ke bawah atau ke atas), horisontal atau lateral dan diagonal. Namun demikian banyak sekali hambatan yang dapat ditemui dalam komunikasi keorganisasian, seperti ; latar belakang, mendengarkan secara selektif, kepercayaan terhadap sumber, pertimbangan nilai, masalah bahasa, penyaringan, jargon, perbedaan status,beban komunikasi yang berat, tekanan waktu dan hambatan dalam memahami komunikasi NonVerbal.
Setiap manajer akan selalu berusaha untuk membangun komunikasi yang efektif, Dalam banyak penelitian, ditemukan delapan faktor yang berkaitan dengan efektivitas komunikasi, yaitu ; pimpinan puncak menyadari pentingnya komunikasi, satunya kata dengan perbuatan, komitmen kepada komunikasi dua arah, menekankan pada komunikasi dua arah, adanya tanggung jawab bersama terhadap komunikasi, menangani kabar buruk, pesan untuk penerima yang dimaksud dan komunikasi sebagai proses yang berkelanjutan.
Dalam setiap organisasi, para manajer harus membangun atau menciptakan iklim komunikasi yang kondusif. Di dalam organisasi ada 5 dimensi penting iklim komunikasi, yaitu ; “supportiveness, participative decision making, trust, confidence, credibility, openess and candor dan high performance goals”. Di dalam kenyataannya, sebenarnya sangat susah untuk membangun komunikasi yang efektif, meskipun kondisi lingkungan internal dan eksternal baik, banyak faktor yang harus diperhatikan antara lain faktor budaya yang berbeda-beda yang bisa menimbulkan masalah atau konflik interpersonal dalam organisasi.
Pengambilan Keputusan;
Hampir dalam setiap aktivitas keseharian, kita selalu diperhadapkan kepada pengambilan keputusan, baik dalam lingkup keluarga, kehidupan bermasyarakat maupun dalam lingkup kehidupan organisasi di mana kita bekerja dan beraktivitas sehari-hari. Pengambilan keputusan didefinisikan sebagai pemilihan dua alternatif atau lebih. Pengambilan keputusan adalah sebuah proses yang dimulai dengan penentuan tujuan, mengidentifikasi masalah, mengembangkan alternatif, mengevaluasi alterrnatif-alternatif, memilih alternatif, melaksanakan keputusan dan melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap keputusan yang sudah diambil. Mintzberg sebagaimana dikemukakan oleh Luthans (2006), tahap-tahap dalam pengambilan keputusan sebagai berikut :
1. Tahap identifikasi, yang terkait dengan pengenalan terhadap masalah dan diagnosis
2. Tahap desain, yang terkait dengan pencarian prosedur atau solusi standar yang ada atau mendesain solusi yang baru.
3. Tahap seleksi, yang terkait dengan penilaian pembuat keputusan berdasarkan pengalaman atau intiusi, analisis alternatif yang logis dan sistematis, dan tawar menawar saat seleksi melibatkan kelompok pembuat keputusan.
Yang perlu dicatat adalah bahwa pengambilan keputusan adalah sebuah
proses yang dinamis. Sebagai proses yang dinamis terdapat banyak celah
umpan balik yang dapat dilakukan dalam setiap tahap. Celah umpan balik
dapat disebabkan oleh masalah yang terkait dengan waktu, situasi politik
tertentu, ketidaksetujuan antar manajer, ketidakmampuan untuk
mengidentifikasi alternatif yang tepat atau mengimplementasikan solusi,
pergantian manajer atau munculnya alternatif baru secara tiba-tiba,
tetapi yang penting untuk dipahami bahwa pengambilan keputusan adalah
sebuah preoses yang dinamis.
Di dalam pengambilan keputusan di kenal model-model pengambilan keputusan. Model berusaha menskripsikan secara teoritis dan realistis bagaimana manajer mengambil suatu keputusan dalam organisasi. Secara khusus, model berusaha menentukan seberapa rasional sebuah keputusan diambil oleh manajemen. Kohler et.al sebagaimana dikutif oleh Silalahi (1992) mengemukakan model-model dalam pengambilan keputusan yaitu ; model tingkah laku, model informasi dan model normatif.
1 komentar
I like your blog :)
BalasHapus