Perbedaan manajer dan Pemimpin

Koontz dan heinsz (1990 : 4) menyebutkan bahwa manajemen adalah “ the process of designing and maintaining an environment in which individuals working together in groups, efficienty acoomplish selected aims”. Orang-orang yang bertugas mengelolah proses organisasi  dan tetap menjaga agar organisasi tempat orang-orang bekerja sama dalam kelompok dapat terselenggara secara efisien menuju pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, dan oleh karena menjalankan fungsi-fungsi manajemen disebut dengan manajer. Manajer mengelola organisasi dengan menggunakan fungsi-fungsi manajemen yang meliputi antara lain : fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengendalian pengawasan dan evaluasi dan memanfaatkan unsur-unsur manajemen seperti manusia, material, uang, mesin, metode dan lain sebagainya. Dalam melaksanakan fungsi - fungsi manajemen seorang manajer dilandasi dengan aspek legalitas. Sedangkan seorang pemimpin adalah orang yang mampu menggerakkan orang-orang tanpa dilandasi oleh aspek legalitas tapi lebih oleh aspek pengakuan dan kesetujuan dari orang-orang yang dipimpinnya.
 
Chester I. Barnard dalam (Stillman II, 1984: 293-302) menyebutkan bahwa fungsi penting dan utama seorang pemimpin yaitu;
1. Kemampuan dalam berkomunikasi
2. Kemampuan dalam merumuskan tujuan dan menyediakan sumber daya
3. Kemampuan dalam membuat formulasi dan definisi ulang suatu organisasi sesuai dengan tujuannya.

Gaya Kepemimpinan : Kunci kepemimpinan yang efektif adalah bagaimana seseorang mampu mengharmonisasikan kepentingan antara tujuan organisasi dan tujuan orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut. Dalam menggerakkan orang, seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan : 1. Kekuasaan atau power, 2. Memahami manusia secara menyeluruh yang berbeda kekuatan motivasinya, 3. Kemampuan menggali inspirasi bawahan, 4. Kemampuan menciptakan iklim dan situasi yang kondusif. 
 Dalam penggunaan wewenang yang dimiliki ada tiga gaya kepemimpinan yang dikenal yaitu otokratif yang menekankan sistem imbalan dan hukuman, demokratik atau partisipatif  yang pengambilan keputusan didasarkan pada aspirasi dan peran serta dari bawah  dan gaya bebas dimana seorang pemimpin hanya menggunakan sedikit kewenangannya terhadap bawahan.

Kepemimpinan Situasional/Kontingensi; Teori The Great Man menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena ia memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin, tidak peduli apakah ia memang memiliki bakat atau tidak untuk menjadi pemimpin. Namun dalam kenyataannya pemimpin bukan hanya dilahirkan, tapi kelahiran seseoran pemimpin bisa juga karena diciptakan lewat pendidikan dan latihan atau karena  lingkungan dan interaksinya dengan orang-orang yang ada disekitarnya atau karena adanya situasi tertentu yang bisa memunculkan lahirnya seorang pemimpin.

Dalam organisasi gaya kepemimpinan akan efektif apabila ada harmonisasi hubungan antara bawahan dan atasan dan adanya pembagian tugas yang jelas antara satu bagian dengan bagian yang lainnya, sehingga tidak terjadi tumpah tindih dan over lapping pekerjaan. Reddin menambahkan lagi satu orientasi yang disebut dengan orientasi keefektifan yang didasarkan pada teori X dan Y yang dikemukakan oleh McGregor. Dari model Reddin ini, kemudian dikenal ada empat gaya efektif dan empat gaya yang tidak efektif dalam kepemimpinan. Hensey dan Blanchard memberikan model dan gaya kepemimpinan situasional yang efektif yang didasarkan pada tingkat kematangan bawahan yaitu M1 (belum dewasa) sampai dengan M4 (dewasa)

1. Kekuasaan & Wewenang
Luthans Fred (2006) mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu dan  membuat orang berubah. Individu yang memiliki kekuasaan mempunyai kemampuan untuk mengubah orang lain. Definsi ini kekuasaan tersebut membedakan kekuasaan dari wewenang dan pengaruh. Kekuasaan itu sifatnya bisa formal dan informal sedangkan wewenang sifatnya formal. Seseorang bisa saja mendapatkan kekuasaan tanpa melaui organisasi formal, sedangkan wewenang diperoeleh dari organisasi formal.

Wewenang mempunyai  legitimasi, sifatnya formal dan merupakan sumber kekuasaan. Wewenang merupakan hak seseorang untuk mengubah orang lain. Kekuasaan tidak mempunyai legitimasi. Chester Barnard (1956, hal 163) mendefinisikan wewenang sebagai karakter komunikasi (perintah) dalam  organisasi formal di mana niat baik diterima oleh kontributor atau anggota organisasi sebagai pengaturan tindakan yang dikontribusikan. Penekanan definisi Barnard didasarkan pada penerimaan anggota suatu organisasi. Teori penerimaan tersebut mudah dibedakan dengan kekuasaan.

Grimes seperti di kutif oleh Luthans (2006) mengemukakan “apa yang melegitimasi wewenang adalah promosi atau pengejaran tujuan kolektif yang dihubungkan dengan konsensus kelompok. Sebaliknya kekuasaan adalah pengejaran tujuan individu yang berhubungan dengan pencapain kelompok. Kekuasaan sangat erat kaitannya kepatuhan dan bukan kesepakatan secara kolektif. Definisi Grimes tersebut secara tersirat, menunjukkan bahwa wewenang terkait dengan penerimaan seorang bawahan kepada atasannya dan adanya unsur pengakuan atau legitimasi dari anggota suatu organisasi
Pengaruh biasanya dipahami lebih luas daripada kekuasaan. Sesorang bisa saja memiliki pengaruh yang luas tetapi tidak memiliki kekuasaan, baik dalam arti formal maupun informal. Pengaruh sangat terkait dengan sifat-sifat unggul dan kematangan yang dimilki oleh seseorang. Pengaruh lebih berhubungan dengan kepemimpinan dari pada dengan kekuasaan, tetapi kedua-duanya jelas terlibat dalam proses kepemimpinan. Pengaruh mencakup kemampuan untuk mengubah orang lain, seperti mengubah kepuasaan dan kinerja. Dengan demikian wewenang berbeda dari kekuasaan, karena legitimasi dan penerimaannya dan pengaruh lebih luas daripada kekuasaan, tetapi secara konseptual kedua istilah ini begitu dekat.

2. Sumber kekuasaan
Daft, dalam Purwanto (2009), mengidentifikasi sumber kekuasaan dalam organisasi terutama jika dilihat dari struktur organisasi, yaitu, 1. Sumber kekuasaan para manajer tingkat atas, 2. sumber kekuasaan para manajer tingkat menengah, 3. Sumber kekuasaan pegawai bawahan.
1. Sumber Kekuasaan Para Manajer Tingkat Atas
Manajer tingkat atas memegang posisi sentral dalam suatu organisasi. Manajer puncak memiliki tanggung jawab dan kekuasaan atas segala sumber daya yang ada dalam suatu organisasi, sumber kekuasaan manajer puncak adalah kedududkan formal, sumber daya, pengendalian pembuatan keputusan dan informasi serta pemusatan jaringan.
2. Sumber Kekusaan Para Manajer Tingkat Menengah
Dalam struktur organisasi,  manajer tingkat menengah adalah para spesialis yang menguasai teknis pelaksanaan pekerjaan. Keputusan-keputusan yang sifatnya operasional hanya akan efektif jika diputuskan oleh manajer tingkat menengah. Agar keputusan dapat efektif, maka manajer tingkat menengah perlu diberikan kekuasaan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan teknis
3. Sumber Kekuasaan Pegawai Bawahan
Sumber kekuasaan pada level bawah sifatnya lebih individual seperti personalitas dan keahlian. Keahlian yang dimiliki oleh bawahan sering kali menjadikan dia tempat bergantung para supervisor atau manajer menengah. Sumber kekuasaan lainnya adalah factor inisiatif, pendekatan kepada atasan dan kemampuan melakukan manipulasi dengan mengubah (menyembunyikan kebenaran) informasi sedemikian rupa sehingga dirinya memperoleh keuntungan.

0 komentar